Home / Fam68 / Kondisi Aceh Tamiang Masih Kritis, Akses Terbatas akibat Banjir dan Longsor

Kondisi Aceh Tamiang Masih Kritis, Akses Terbatas akibat Banjir dan Longsor

Aceh Tamiang Terendam Banjir dan Longsor, Warga Berjuang Evakuasi Diri

Fam68 – Aceh Tamiang, 11 Desember 2025 — Aceh Tamiang kembali menghadapi bencana alam. Hujan deras yang mengguyur sejak Senin malam menyebabkan banjir dan tanah longsor di beberapa kecamatan. Puluhan rumah terendam, jalan utama tertutup lumpur, dan warga terpaksa mengungsi ke tempat aman.

Pantauan di lapangan, perkampungan di Kecamatan Karang Baru dan Bendahara terlihat terendam air setinggi pinggang orang dewasa. Beberapa rumah warga bahkan mengalami kerusakan akibat tanah longsor di lereng-lereng perbukitan. Pemotor dan pejalan kaki harus menyeberangi genangan air yang bercampur lumpur untuk keluar dari kawasan terdampak.

“Air datang begitu cepat, kami hanya sempat menyelamatkan dokumen dan barang penting. Banyak warga masih terjebak di rumah karena jalanan tidak bisa dilewati,” ujar seorang warga Bendahara.


Evakuasi dan Bantuan Masih Terbatas

Tim BPBD Aceh Tamiang bersama relawan terus membantu evakuasi warga ke posko sementara di sekolah dan balai desa. Namun, akses ke banyak kecamatan masih terhambat lumpur dan longsor, membuat distribusi bantuan logistik berjalan lambat.

Juru Bicara Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, Agusliayana Devita, mengatakan, “Dari 12 kecamatan, baru 3 kecamatan yang bisa diakses. Kondisi jalan sebagian besar masih tertutup lumpur dan batu longsor. Banyak warga membutuhkan bantuan darurat.”

Kebutuhan mendesak di lokasi antara lain makanan siap saji, air bersih, perlengkapan bayi, genset, dan alat berat untuk membersihkan jalan. Sementara jaringan listrik dan komunikasi sebagian besar terputus, membuat koordinasi evakuasi lebih sulit.


Kesimpulan

Banjir dan longsor di Aceh Tamiang menimbulkan dampak besar bagi masyarakat, dari rumah rusak hingga terputusnya akses vital. Meski pemerintah dan relawan bergerak cepat, keterbatasan logistik dan sulitnya akses membuat warga masih membutuhkan bantuan darurat. Kolaborasi antara pemerintah, relawan, dan masyarakat menjadi kunci untuk mengurangi risiko dan memulihkan kondisi secepat mungkin.

Berita lainnya

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *